Global Supply Chains: Struggle within or against them? [1]

Introduction
Lessons for Social Change in the Global Economy

Jayanti is worried and she never felt like this before. Working as a garment worker for more than 18 years in Sri Lanka, she thought she had seen the worst.  At 17, she moved out of her village to help her family out of poverty by working in garment factories near Colombo. Life has never been easy for her.  It has been marked by very low wages, excessive overtime and filthy and crowded living conditions. She was called ‘Juki girl’[2] and abused many times both inside and outside the factory. Over the years she has changed  jobs, but the conditions have hardly changed. Her body gave up many times but she always came back as there were no other jobs available. Yet she tolerated it, hoping for a better life for her children.  Padma, her 16 year old daughter, has been unable to finish school due to the financial burden and may have to join Jayanti as a garment worker. Jayantis desperately trying to hold back her tears for the fear it may spoil the shirt she is sewing, yet one can see the rage in her eyes – nothing has changed for her over past two decades and her children may have to face the same.

Jayanti’s story exemplifies the condition of millions of garment workers spanning dozens of developing countries in Asia and across the world. Jayanti’s story reverberates with Fatma, working in Ashulia – near Dhaka, Bangladesh, and Tevy, a garment worker from Phnom Penh, Cambodia, and all those workers at the lowest tier of the multi-billion dollar garment supply chain.  It is a known fact that global garment production takes place through an intricate web of supply chains spread around the globe. This process of production, which has been in existence for more than three decades, is carried out by workers, predominantly young migrant women, in workplaces better identified as ‘sweatshops’, in conditions that have been proven over the years to be inhumane.

Just as this chapter was being written, it was announced that Amancio Ortega, the founder and Director of Spanish Clothing giant the Inditex group – better known for its brand Zara, became the third richest person in the world with an estimated wealth of about US$ 46 billion.[3] Ironically his wealth is more than three times than the GDP of Cambodia (estimated at US$ 12.9 billion),[4] where many of the 300,000 garment workers stitch garments for Zara earning a meager US$ 60-80 a month, working for more than 10–12 hours a day. There is more irony to this, reflective of the nature of the garment supply chain. This rise of Amancio Ortega also comes at a time when Spain is reeling under one of the worst economic crises in its history; workers in Spain are struggling, the unemployment rate has reached 25 per cent and is still spiraling. In an extreme contrast with Jayanti’s story and those of millions of workers in many countries, including in his own country, Ortega’s accumulation of wealth reflects the injustice and exploitative nature of the global supply chain system.

This paper discusses the global supply chain system and analyses it as a symbol of exploitation and capital accumulation in the era of the ‘global factory’.  It describes the impact of the global supply chain system.  In particular, the chapter describes uneven development and unequal relationships between countries in Asia, and elaborates how the supply chains model of growth has impacted upon working populations and the environment.  It argues that global supply chains cannot be reformed by Corporate Social Responsibility (CSR), since CSR is a form of charity rather than representing any meaningful structural change.  The chapter concludes with a proposed agenda for labour movements.

Melawan Kuasa Korporasi, Mencari Alternatif dari Globalisasi Kapitalis

Tinjauan Buku

  • Pengarang: Martin Hart-Landsberg
  • Judul: Capitalist Globalization: Consequences, Resistance, and Alternatives
  • Penerbit: Monthly Review Press
  • Tahun terbit: 2013
  • Jumlah halaman: 223

BUKU terbaru Martin Hart-Landsberg—editor Monthly Review dan guru besar ekonomi pada Program Ekonomi-Politik di Lewis and Clark College, Portland, Oregon, AS—berjudul Capitalist Globalization: Consequences, Resistance, and Alternatives (2013). Ia dengan baik menjelaskan mengapa kapital terus mencari ruang yang kondusif bagi akumulasinya sebesar mungkin, mengapa ia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain untuk kemudian secara struktural membentuk rezim akumulasi kapital. Rezim ini menurutnya terutama terhimpun di kawasan Asia Timur yang lebih banyak dikuasai korporasi transnasional, dengan Cina sebagai pusat produksi untuk pasar global.
Argumen tajam Hart-Landsberg membuka kedok ideologi neoliberal yang goyah menyusul krisis finansial tahun 2008, dan menunjukkan fakta-fakta empiris tentang liciknya perjanjian perdagangan bebas dan lembaga semacam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Berbeda dengan tulisan-tulisannya yang terdahulu yang lebih mendiskusikan seputar perlawanan kelas dan ekonomi politik di Asia Timur—terutama di Korea Selatan, Cina dan Jepang—buku Hart-Landsberg kali ini disertai tawaran alternatif dari globalisasi kapitalis, yaitu prakarsa regional alternatif di Amerika Selatan: ALBA (Alianza Bolivariana para los Pueblos de Nuestra AmĂ©rica, Aliansi Bolivarian untuk Solidaritas Rakyat Amerika) dan Banco del Sur (Bank Selatan) yang menurutnya merupakan preseden penting perlawanan atas kapitalisme global. 

Rantai Pasokan Global dan Strategi Gerakan Buruh

Jurnal Indoprogress III/ Januari 2013
GLOBALISASI dan semakin tersambungnya jalinan antar-rantai pasokan secara global ditentukan terutama oleh korporasi transnasional, yaitu dengan memperluas jangkauannya ke banyak negara yang buruhnya berupah murah untuk dapat meningkatkan keuntungan. Negara yang memerlukan investasi diposisikan terus bersaing satu sama lain untuk mengundang beroperasinya korporasi transnasional dengan cara berlomba-lomba menawarkan insentif upah rendah dan limpahan sumber daya alam. Pada akhirnya, buruh dan komunitas di negara-negara penerima investasi juga terjebak dalam persainganlebih seringnya konfliksatu sama lain, karena mereka diseret ke dalam pekerjaan yang terkait dengan rantai pasokan global (global supply chain).

Tulisan ini mendiskusikan tentang sistem rantai pasokan global dan melihatnya sebagai simbol dari pemerasan dan akumulasi kapital di era ‘pabrik global’. Selain mendiskusikan negara-negara Asia dan relasinya yang timpang dalam sistem rantai pasokan global, ia juga menunjukkan dampak-dampak dari sistem ini, serta berpendapat bahwa rantai pasokan global tidak dapat direformasi dengan kegiatan ‘amal’ Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Tulisan ditutup dengan menawarkan strategi bagi gerakan buruh.

Sesudah Gerakan Payung di Hong Kong

Akhir Oktober 2014, cuaca kota Hong Kong masih panas dan lembab. Ribuan warga kembali bergabung dalam pendudukan Jalan Nathan di Mongkok, distrik perdagangan terpadat. Saat itu aksi sudah melewati minggu keempat. Jalanan yang mereka duduki merupakan jalur tersibuk di seluruh kawasan Kowloon yang menghubungkan dengan pulau-pulau lain. Mereka meneriakkan yel-yel: "Demokrasi untuk Hong Kong!", "CY Leung boneka Beijing!", "CY Leung segera turun!", "Pemilu Langsung!" Di bagian selatan Jalan Nathan yang panjang, pendudukan dikuasai oleh kelompok ultra-kanan, sementara di bagian utara oleh beberapa kelompok kanan lainnya (di Hong Kong kelompok progresif disebut 'kanan'; sebutan 'kiri' lebih berarti pro-Beijing atau pro-status quo). Puluhan ribu warga lainnya menduduki dua titik kunci lain: kawasan Admiralty dan Causeway Bay.


MTR, Sarana Transportasi dan Bunuh Diri

http://mtr.com.hk/
Setiap tahun MTR Corporation (Mass Transit Railway atau kereta bawah tanah di Hong Kong) menaikan tarif penumpang. Pada Juli tahun ini kenaikan ongkos MTR sebesar 2,7 persen. Tahun lalu (2012), meski menuai protes besar dari warga, ongkos MTR bahkan naik 5,4 persen. Mengapa MTR terus menaikan tarifnya, padahal tidak ada alasan yang masuk akal sehingga warga marah besar? Tidak masuk akal karena keuntungan MTR sudah bermilyar-milyar.

Pada 2012 saja, keuntungan MTR mencapai 36 milyar dolar Hong Kong. Dari tarif yang dipungut dari penumpang saja, MTR sudah mendapatkan profit 85 persen. Belum lagi keuntungan dari banyak bisnis lainnya. MTR Corporation juga memiliki lisensi mengoperasikan kereta di Beijing, Hangzou dan Shengzen di Cina, dua jalur kereta bawah tanah di kota London, Inggris, dan mengoperasikan seluruh sistem kereta bawah tanah di kota Melbourne, Australia, dan Stockholm, Swedia.

Kue Bulan, Sampah Musim Gugur

Tahukah Anda kalau kue bulan (moon cake), yang khas beredar pada setiap musim gugur seperti sekarang ini, memiliki sejarah yang menarik? Dulu, kue bulan dijadikan sebagai alat perang, strategi untuk menyebarkan berita dan melakukan mata-mata.

Ketika itu, Kekaisaran Mongol yang menguasai Cina di abad ke-14 akhirnya tidak berdaya oleh perlawanan heroik para petani Han yang dipimpin Zhu Yuanzhang (Dinasti Ming). Zhu menggunakan ‘strategi kue bulan’. Ia dan para petani menggalang kekuatan dengan menggunakan makanan tersebut sebagai sarana menyebarkan informasi dan taktik kepada simpul-simpul petani yang berjuang menggulingkan pemerintahan Mongol.  

Workers’ Struggles in Electronic Industry

Electronics is one of the fastest growing industries today. It has been generating a rapidly growing range of products and services that are increasingly used in almost every human activity. It has completely changed the way people live and interact.

Deeply entwined in our social fabric, electronics products and systems support critical aspects of communication, education, finance, government among others. Thousands of companies from many countries contribute to the industry on a daily basis. Even a single product can contain components and software manufactured by various companies in many different countries.