Nietzsche, Whitman

Lautan Nietzsche, Samudera Whitman:
Menerjang Dua Gelombang


Do I contradict myself?
Very well then, I contradict myself
(I am large, I contain multitudes).
Walt Whitman – “Song of Myself”

Soul is only a word for something in the body.
The body is a great intelligence, a multiplicity with one sense,
a war and a peace, a herd and herdsman.
Friedrich Nietzsche – “Thus Spoke Zarathustra”


Suatu hari di musim gugur 1998, Amy Mullin, seorang pelajar filsafat, menempatkan Nietzsche dan Whitman dalam perbincangan segar di jurnal terkemuka Philosophy Today. Dia menyebutkan bahwa Friedrich Nietzsche (1844-1900) dan Walt Whitman (1819-1892) adalah dua nama yang mengakui pemikirannya sangat dipengaruhi Ralph Waldo Emerson (1803-1882), seorang penyair dan esais filosofis Amerika.


Yang menarik dari temuan Mullin itu: meskipun Nietzsche dan Whitman melakukan hubungan intelektual dengan Emerson, tetapi keduanya tak pernah berhubungan secara langsung. Walaupun Nietzsche pernah mempunyai buku karangan Karl Knortz berjudul Walt Whitman: Vortag, kiranya tak juga cukup membuktikan bahwa baik Nietzsche maupun Whitman sempat saling membaca karyanya masing-masing. Ketika keduanya menyebut Emerson pada tulisan mereka, yang diterbitkan ataupun yang tidak, dalam karya mereka masing-masing tak pernah saling mengutip nama.

Membandingkan Nietzsche dan Whitman sebagai pemikir yang dipengaruhi Emerson pasti sangat menarik. Namun menyingkap ‘efek aneh’ yang muncul ketika membaca serentak karya mereka ternyata menggugah daya pikat tersendiri. Efek aneh itu, seperti ditunjukkan Mullin dalam artikelnya bertajuk “Whitman’s Oceans, Nietzsche’s Seas” (Philosophy Today, Musim Gugur 1998, hlm.270-283), berasal dari upaya mengkonfrontasikan kesamaan pemikiran mereka dengan perbedaan radikalnya. Pada tingkat tertentu, baik Nietzsche maupun Whitman memiliki pemahaman yang sama tentang tubuh, diri (self), tetapi perspektif sosial dan politik mereka dapat sangat jauh berbeda.

Samudra dan Lautan, Nietzsche dan Whitman

Harus diakui bahwa karya-karya Nietzsche dan Whitman cukup berpengaruh secara luas. Gagasan keduanya menyumbang perkembangan sastra dan pemikiran, menanamkan pengaruh pada para filsuf dan sastrawan belakangan. Akan tetapi baik Nietzsche maupun Whitman segera menyangkal jika mereka memiliki pengikut. Mereka sendiri adalah ‘pengikut’ Emerson yang juga dengan tegas menyangkal mempunyai murid dan aliran! Emerson pernah menyatakan: “Adalah kebanggaanku bahwa aku tak beraliran dan tak punya pengikut” (The Journal and Miscellaneous Notebooks of Ralph Waldo Emerson, 1960, 14: 258).

Seperti Emerson, Nietzsche dan Whitman mengatakan hal yang sama: jika Nietzsche mengklaim bahwa,

aku tak mau seorangpun mengikutiku; aku mau semua orang menggunakan caranya sendiri, sebagaimana aku melakukannya (The Gay Science, 1974: § 255),

Whitman dalam Song of Myself menyebutkan bahwa

ia yang paling mengagumi gayaku (akan) belajar bagaimana cara menghancurkan sang guru (Poet to Poet: Whitman Selected by Robert Creeley, 1973: 107).

Banyak hal yang dapat menunjukkan kemiripan Nietzsche dan Whitman. Nietzsche sejak kecilnya lemah, pesakitan dan kelak bertambah parah, sedang Whitman terserang lumpuh selama 19 tahun menjelang kematiannya (‘guru’ mereka, Emerson, pun sejak kecil didera bencana yang tak pernah sudah). Tentu kemiripan tersebut dapat terjadi kebetulan dan tak terkait dengan kesamaan pemikiran mereka, tapi setidak-tidaknya bisa dijadikan alasan mengapa pada tingkat tertentu beberapa gagasan ketiganya bisa ditarik pada asumsi yang kurang lebih sama: keliaran.

Tetapi, persamaan Nietzsche dengan Whitman juga menampilkan baik penolakan maupun radikalisasi mereka pada Emerson yang tak dapat diatribusikan pada pengaruh langsung gurunya itu. Tidak seperti Emerson yang transendentalis, keduanya adalah pengkritik keras Kristianitas tradisional, membongkar kepalsuan dan menelanjangi praktik agama yang semu. Di samping itu, persamaan keduanya tampak dalam pilihan-pilihan liar: perang dan agresifitas, risiko dan tantangan.

Secara umum, setidaknya ada empat hal yang mencirikan kesamaan Nietzsche dan Whitman. Pertama, perayaan mereka pada yang natural, yang alamiah, dan penolakannya terhadap yang tak dapat menerima yang alamiah; kedua, pemahaman mereka tentang jiwa sebagai modifikasi tubuh, jiwa sebagai subordinat dari tubuh; ketiga, penerimaan mereka pada kejahatan, seperti halnya kebaikan, sebagai keniscayaan dalam hidup seseorang (individual) dan masyarakat; dan keempat, kesamaan perspektif mereka tentang diri: sebagai keragaman.

Barangkali, kesamaan tersebut merupakan pengaruh kental Emerson pada keduanya. Figur Emerson memang tercermin pada sosok keduanya: jika Nietzsche adalah seorang filsuf yang menulis syair, Whitman adalah penyair yang menaburi syairnya dengan filsafat. Wajar bila baik Nietzsche maupun Whitman tidak pernah menuliskan traktat filsafat secara sistematis. Begitupun Emerson.

Dalam menyalahkan mereka yang memandang rendah tubuh, Nietzsche menulis dalam Thus Spoke Zarathustra, bahwa

jiwa hanyalah satu kata bagi sesuatu di dalam tubuh. Tubuh adalah sebuah kecerdasan agung, keberagaman dengan satu arti, suatu perang dan damai, sekelompok massa dan kerumunan (Thus Spoke Zarathustra, 1961: 61).

Ia juga menggambarkan cita-cita ideal para filsuf yang baginya

harus menjadi yang terbesar yang (selalu) paling soliter, sangat menyimpan rahasia (kebijaksanaan), paling bersimpang arah, seorang yang melampaui baik dan buruk... kemampuan menjadi seorang yang berdimensi ragam dan menyeluruh, seorang yang luas dan penuh (Beyond Good and Evil, 1990: § 212).

Sementara itu Whitman, dalam syair Starting from Paumanok, menunjukkan anggapan yang sama tentang tubuh:

Aku akan menulis syair tentang tubuh dan kerapuhanku
Yang karenanya aku mengisi diriku dengan syair-syair tentang jiwa dan kebakaanku (Poet to Poet, 1973: 29).

Masih dalam Starting from Paumanok ia juga menulis:

Aku pun membuat syair tentang yang buruk
aku juga mengingat bagian baitnya
aku sendiri baik dan buruk sekaligus
begitu juga bangsaku
kubilang tak ada fakta yang buruk
(atau jika ada, kukatakan penting bagimu untuk mendarat atau menemuiku...) (Poet to Poet, 1973: 31).


Dan dalam Song of Myself Whitman mengekspresikan pemahaman tentang dirinya sebagai keragaman:

Apakah aku menyangkal diriku sendiri?
ya, aku menyangkal diriku sendiri
(aku ini besar, diriku memuat beragam diri)
(Poet to Poet, 1973: 113).


Pernah juga Whitman berkali-kali menolak permintaan supaya dirinya menghapus muatan seksualitas dalam syairnya, Leaves of Grass (1855), setiap kali akan dicetak ulang. Baginya sebuah individualitas tanpa seks tidaklah terbayangkan. Dalam syair tersebut ia menyebut: “Aku adalah penyair tubuh, dan aku juga penyair jiwa” (Lih. The Encyclopedia Americana, vol.28, 1978: 733-35).

Selain itu, dalam karya-karyanya, Nietzsche dan Whitman masing-masing menggunakan matahari sebagai metafor untuk nilai. Mereka bahkan menganggap diri mereka sebagai sumber dan pencipta matahari yang baru. Dalam Song of Myself Whitman menulis:

Betapa cepat fajar matahari mau membunuhku
jika aku tak segera dan senantiasa mengirim fajar itu dari diriku (Poet to Poet, 1973: 72).


Sementara itu Nietzsche dalam The Gay Science berkata:

Aku ingin mencipta untuk diriku sebuah matahariku sendiri
(The Gay Science, 1974, § 320).


Banyak pula dari aforisme Nietzsche yang terkait dengan (atau diarahkan bagi) sang pelaut yang meluncur di atas permukaan lautan, dan di tempat lain ia menekankan perlunya filsuf menyelami lautan atau bahkan menjadi lautan. Dalam syair Songs of Prince Vogelfrei yang ia tambahkan pada bagian akhir The Gay Science, Nietzsche menegaskan keliaran:

Tanpa rencana (ku)menuju kebesaran
membuka lautan kumenahkodai kapal
(The Gay Science, 1974: 371).


Dalam syair itu ia juga menulis tentang kebutuhan menaiki kapal pecah yang berbahaya, sedangkan dalam Thus Spoke Zarathustra (1961: 42) ia menulis cita-citanya, Manusia Atas (Uebermensch), untuk menjadi lautan.

Jika Nietzsche kerap menulis tentang hidup sebagai meluncur mengarungi lautan – terkadang menganjurkan untuk menyelam ke dasarnya – Whitman kerap kali berseru agar terjun ke dalam samudera – sesekali ia juga menganjurkan berlayar di atasnya. Banyak dari syair Whitman yang bermetafor lautan atau diinspirasikan samudera. Tapi terkadang ia juga menyamakan lautan dengan sebuah kapal. Misalnya, dalam “You Tides with Ceaseless Swell” ia menulis mengenai badai dan tentangnya yang

mengalir, identitas yang luas
menggenggam dunia dengan seluruh bagiannya sebagai satu
seperti berlayar di dalam sebuah kapal
(Poet to Poet, 1973: 227).


Demikianlah yang tampak dari Nietzsche dan Whitman. Mereka mengasosiasikan hidup dengan samudera dan lautan. Bagi mereka hidup haruslah menerjang gelombang, menyelam ke dasar lautan, berselancar di atas samudera dan menjadi bagiannya.

Beberapa Perbedaan
Bagaimanapun, tentu terdapat perbedaan penting pada keduanya. Bahkan, menilik pandangan sosial dan politik mereka akan terlihat perbedaan yang cukup mencolok: Whitman adalah penyair besar (sebagian mengatakannya sebagai filsuf) mengenai demokrasi, sebaliknya Nietzsche menjadi salah seorang filsuf pengkritik keras demokrasi; jika Whitman sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk menulis dan bekerja di surat kabar, Nietzsche justru menyatakan publik (pembaca) surat kabar sebagai ‘massa’ yang larut; bila Whitman mengafirmasi dirinya sebagai “penyair tentang perempuan, sebagaimana juga tentang lelaki,” Nietzsche, baik sebagai subyek politis maupun filsuf, dirinya oleh sebagian ditafsirkan sebagai penampik perempuan (misoginik).

Mereka yang dangkal akan menganggap aneh Nietzsche ketimbang Whitman, terutama tafsir atas misoginismenya yang mengundang kebencian kaum feminis. Sebetulnya, yang ditampik Nietzsche bukan hanya perempuan, tetapi juga filsuf-filsuf pencerahan, ahli-ahli agama yang sempit, ahli-ahli sains yang jatuh pada saintisme. Dalam membongkar kepalsuan itulah Nietzsche terkadang secara sempit ditafsirkan bahkan sebagai misantropis.

Bagi pembelanya, Nietzsche sebetulnya membenci sekaligus memuja perempuan: sinis pada yang ‘mandul’ dan murahan, tetapi memuja pada yang ‘menggoda’ dan misterius. Pada teks-teks Nietzsche, perempuan bahkan dijadikan simbol yang paling ia suka dalam mengangkat hidup dan kenyataan. Dalam Thus Spoke Zarathustra, misalnya, kita akan menemukan bahwa Nietzsche mengidentikkan kekekalan dengan perempuan. Dalam teks itu, pada setiap akhir bait dari "Tujuh Meterai" yang mengupas ajaran rahasia tentang kekekalan, Nietzsche menyatakan: “Aku mencintai kekekalan!” yang sebelumnya diasosiasikan sebagai perempuan yang mampu memberikan anak:

Belum pernah aku berjumpa dengan seorang perempuan yang darinya kuharapkan memberiku anak, selain perempuan (kekekalan) ini yang kucintai: karena kumencintaimu, wahai kekekalan. Karena kumencintaimu, wahai kekekalan... (Thus Spoke Zarathustra, 1967: 272-5).

Memang, berbeda dengan Whitman, Nietzsche bukanlah ‘pengafirmasi’ (yes-sayer). Ia lebih dikenal sebagai ‘pembangkang’ (nay-sayer) sekaligus pengkritik yang terus curiga pada kepalsuan. Gagasan-gagasannya mengilhami dekonstruktifisme dalam berfikir. Dan tak dapat disangkal bahwa membaca serentak Nietzsche dan Whitman seperti menerjang dua gelombang, di samudra dan lautan.***
Post a Comment