Siapkah Iran Berperang?

Baru-baru ini pemerintah Iran, di tengah-tengah kecaman internasional atas program nuklirnya, malah mengumumkan telah mengembangkan peluru kendali baru seberat 900 kg bernama Ghased (utusan) dan pesawat tempur Saegheh atau petir (Seputar Indonesia, 07/09/2006). Iran bahkan telah unjuk kekuatan dengan menjajal Saegheh terbang melintasi angkasa kawasan barat laut negerinya dalam suatu latihan tempur. Apakah dengan ini Iran siap berperang?

Dalam satu tulisannya bertema "Israel, Hizbollah, dan Iran " (Seputar Indonesia, 07/09/2006), Bambang Pranowo sekilas menunjukkan kebanggaannya kepada presiden Iran, Ahmadinejad, yang tak bergeming menghadapi tekanan AS dan sekutunya. Pranowo menyebutkan bahwa "umat Islam di seluruh dunia amat bangga terhadap Ahmadinejad yang secara tegas menolak tekanan AS untuk menghentikan program nuklirnya."

Mengapa umat Islam harus bangga pada sikap militan Iran, khususnya Ahmadinejad? Sebetulnya, siapkah Iran diserang atau dihujani berbagai sanksi karena sikapnya itu? Mungkin, Iran merupakan salah satu negeri langka di dunia ini yang tak takut diserang, apalagi hanya diberi sanksi. Iran dikenal sebagai negeri perlawanan dan tak kenal takut menghadapi berbagai risiko. Negeri yang dulu bernama Persia ini tak gentar sedikitpun, meski embargo ekonomi Amerika selama ini telah memperparah perekonomiannya.

Padahal, Iran pascarevolusi diselimuti periode kelam dan masa penuh ketakstabilan, termasuk delapan tahun perang melawan Irak (1980-1988). Perang itu, selain merenggut tak kurang dari 30 ribu tentara Iran, juga telah menjadikan kekayaan minyak negeri ini, yang merupakan produk andalan, merosot amat tajam.

Iran yang Strategis
Semenjak penggulingan kekuasaan Shah Iran dukungan Amerika pada revolusi tahun 1979, Amerika selalu menekan Iran. Saat peristiwa itu -- yang konon ketika mudanya presiden Ahmadinejad terlibat -- kedutaan Amerika di Teheran diduduki dan 52 stafnya disandera selama 444 hari.

Iran memang selalu menjadi incaran Barat, terlebih pascaperistiwa 11 September 2001. Dari segi geopolitik, Iran berada di suatu lokasi yang sangat strategis. Dengan luas wilayah sekitar 1.648.000 km2, negeri ini dikelilingi negara-negara penting di kawasan benua Asia dan Eropa, seperti Turki, Rusia, Afganistan, Pakistan dan Irak.

Namun secara politis negara-negara yang mengelilingi Iran tersebut tergolong rawan. Penggempuran Amerika atas Afghanistan dan invasinya atas Irak adalah salah satu fenomena ketakstabilan politik yang menyelimuti kawasan sekitar negeri ini.

Sebagai negeri pengekspor minyak terbesar keempat di dunia, Iran mestinya tak boleh dikucilkan dari rantai perekonomian dunia. Juni lalu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei yang geram atas sikap Amerika yang drakonian sempat mengancam akan mengacaukan pasokan minyak global. Hanya sehari berselang, ancamannya itu berakibat melonjakkan harga minyak dunia.

Penderitaan Rakyat Iran
Jika pemerintah Iran siap menghadapi sanksi dan bahkan perang, bagaimanakah dengan rakyatnya? Simak fakta-fakta di bawah ini.

Seperti dicatat The Economist (18/01/2003), sejak sebelum presiden Ahmadinejad berkuasa, pekerjaan rumah Iran tidaklah sederhana: angka kecelakaan lalu-lintas sangat tinggi (satu orang meninggal dalam tiap 26 menit), tingkat polusi yang parah, tingkat kecanduan narkotika yang naik tajam (hingga kini tercatat dua juta kaum muda Iran adalah pengguna narkotika), sekitar 1,7 juta wanita Iran adalah tunawisma alias gelandangan (tak heran jika angka pekerja seks komersial mencapai 300.000), angka kawin kontrak (sigeh) meningkat hingga 122 persen (sebagian akibat naiknya tingkat perceraian yang mencapai 32 persen).

Hingga sekarang, relatif sulit meningkatkan taraf hidup rakyat Iran, mengurangi inflasi dan menurunkan angka pengangguran. Tetapi ironisnya, tidak sedikit biaya yang dibelanjakan Iran bagi persenjataan canggih militernya ( Michael Rubin, "What Are Iran's Domestic Priorities?" Middle East Review of International Affairs, Volume 6, No.2, Juni 2002) .

Sebelum Ahmadinejad memimpin Iran, sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh satu lembaga di Teheran, Ayandeh , memang menunjukkan bahwa 94 persen warga Iran menyatakan perlunya reformasi, 71 persen menginginkan referendum untuk memilih bentuk pemerintahan baru, dan 63 persen menginginkan perubahan fundamental (The Economist 18/01/2003). Jajak pendapat itu terkesan menunjukkan bahwa rakyat Iran haus perubahan dan merindukan demokrasi. Tapi nyatanya figur seperti Ahmadinejadlah yang terpilih memimpin negeri berpenduduk lebih dari 66 juta ini. Hal ini mencerminkan perlawanan dan betapa konservatifnya rakyat Iran, satu catatan yang patut dicermati AS dan sekutunya.

Hindari Perang dan Sanksi
Negara-negara di dunia sekarang ini mestinya kian sadar bahwa perang dan militerisme tak lagi merupakan cara yang efektif dalam menciptakan kekuasaan. Sekarang ini, lihatlah posisi Amerika, Bush, Blair, yang kian lama citranya kian melorot. Terutama, karena mereka tak pandai memainkan kekuatan diplomasi dalam politik global sekarang ini.

Saat ini penting bagi pemerintah Iran untuk lebih memperhatikan kesejahteraan, pendidikan, dan kesehatan rakyatnya ketimbang berkonsentrasi pada perang dan kekuatan militernya. Puluhan ribu rakyat Iran yang eksil ke berbagai negara pun mendambakan agar mereka bisa kembali dan mereka sangat merindukan perdamaian ( International Herald Tribune, 9 Mei 2006).

Memang tak cukup hanya menghimbau Iran agar bersikap damai. Negara-negara yang terlibat dalam konflik, termasuk Israel, Amerika, Uni Eropa, dll, juga harus didesak menciptakan dunia yang lebih aman. Harus diingatkan kepada mereka, dan juga pada dunia, bahwa kian kerasnya desakan internasional yang drakonian pada Iran, malah akan semakin membangkitkan semangat perlawanan mereka, yang bisa kembali meneriakkan slogan revolusi mereka: " Kebebasan, Kemerdekaan, dan Islam".

Kini diperlukan satu terobosan penting dalam mendesak aktor-aktor yang terlibat dalam konflik Timur Tengah saat ini agar mereka lebih mengutamakan perdamaian. Juga, penting untuk mengkampanyekan bahwa hendaknya aksi-aksi ummat Islam di manapun dalam mengecam peperangan bukanlah terutama karena motivasi keislaman yang sempit, melainkan karena kemanusiaan yang lebih luas. (*)


Seputar Indonesia, 9 September 2006

Post a Comment