Bersama Michael Mann, Melihat Sisi Gelap Demokrasi

Michael Mann
The Dark Side of Democracy: Explaining Ethnic Cleansing
New York: Cambridge University Press, 2005
580 halaman


Dalam permulaan The Dark Side of Democracy: Explaining Ethnic Cleansing (2005) Mann mengawali dengan kisah malang pasangan renta, Batisha Hoxha (74 tahun) dan Izet (77 tahun)। Ia mengisahkan begini:

Batisha tengah duduk di dapur rumahnya, sedangkan suaminya Izet menghangatkan badan। Mereka mendengar ledakan tetapi tidak tahu jika pasukan Serbia sudah memasuki kota mereka, Belanika, Kosovo, yang dulu bagian dari Yugoslavia. Tak lama berselang, pasukan Serbia itu, sekitar lima atau enam orang, merangsek dan mendobrak pintu depan rumah mereka sambil berteriak ”mana anak-anak kalian?” Para tentara itu memukuli Izet sekeras-kerasnya hingga tersungkur ke lantai. Sambil mengayunkan kaki bersepatu lars ke arah Izet, para tentara meminta uang dan bertanya di mana anak-anak pasangan tua itu. Sementara Izet masih terkapar di lantai sambil berusaha memandangi mereka, para tentara itu pun membunuh Izet. ”Mereka menyarangkan tiga peluru di dada Izet,” kenang Batisha getir. Lalu para tentara itu menarik cincin kawin dari jari Batisha yang lunglai menyaksikan suaminya sekarat di depannya. ”Saya masih merasakan sakitnya,” katanya terisak. Para tentara itu menembaki... dan akhirnya mereka menendang Batisha serta seorang anak lelakinya yang berumur sepuluh tahun, lalu meminta keduanya keluar. Rumah dibakar walau Batisha dan anaknya masih belum sampai gerbang rumah. Batisha kemudian ditemukan oleh anak perempuannya di kamp pengungsian di Albania Utara. Memandangi foto mendiang Izet dengan penuh cinta, Batisha menggumam: ”Tak ada yang mengerti atas apa yang telah kami saksikan dan kami derita. Hanya Tuhan yang tahu.”


Kemudian Mann menulis: ganti saja nama dan lokasinya, peristiwa serupa yang dialami pasangan malang Batisha dan Izet di atas terjadi hampir di manapun di dunia dalam beberapa abad belakangan ini. Menurutnya, pembersihan etnis adalah salah satu kejahatan utama masa modern. “Kita akhirnya tahu sekarang ini bahwa peristiwa Holocaust Yahudi yang unik tidaklah unik sebagai kasus genosida atau pembunuhan massal. Peristiwa pembunuhan massal untungnya tak banyak terjadi, namun kian banyak kasus pembunuhan yang mengarah pada pembersihan etnis” (h 2)

Menurut Mann pembersihan etnis yang brutal adalah khas zaman modern. Saat ini pembersihan etnis lebih kerap terjadi dan lebih mematikan. Pada abad ke-20 saja korban jatuh tak kurang dari 70 juta jiwa. Ia memprediksikan abad ke-21 akan lebih buruk lagi. Masyarakat sipil-lah yang semakin menjadi korban. Jika pada Perang Dunia I korban sipil kurang dari 10 persen, pada Perang Dunia II korban sipil mencapai lebih dari setengah dari seluruh jumlah korban. Pada perang-perang yang terjadi di tahun 90-an, korban sipil mencapai 80 persen (h 2).

Semua itu akibat dari tumbuhnya nasionalisme. Nasionalisme menjadi amat berbahaya ketika ia dipolitisasi. Demokrasi juga turut menjadi biang keladi. Demokrasi bermakna rakyat yang berkuasa, tetapi kata rakyat sekarang ini bermakna ganda: demos dan ethnos. Demos adalah massa, ethnos adalah sekelompok orang yang memiliki budaya yang sama dan rasa mewarisi suatu budaya yang berbeda dengan kelompok masyarakat yang lain. Sekelompok “etnis” yang mayoritas dapat berkuasa “secara demokratis” tetapi sekaligus juga secara tiranis terhadap etnis minoritas. Inilah alasan mengapa pembersihan etnis terjadi dan kian mengkhawatirkan.

Buku The Dark Side of Democracy: Explaining Ethnic Cleansing yang ditulis Mann ini adalah upaya yang sangat baik untuk menteorikan asal-muasal dan peningkatan peristiwa pembersihan etnis dengan memfokuskan pada relasi kuasa politik dalam suatu masyarakat. Menurut Mann, pembersihan etnis dipahami sebagai “hasil dari empat bentuk yang saling berhubungan dari jejaring kuasa: ideologi, ekonomi, militer, dan politik (h 30).

Tesis utama Mann adalah sebagai berikut: pembersihan etnis yang brutal, yang dalam bentuk ekstrim dapat menjadi pembunuhan bersifat massal, merupakan sebuah fenomena modern. Ini adalah “sisi gelap demokrasi,” ketika aturan rakyat (demos) dan etnisitas masyarakat (ethnos) bercampur dan membingungkan. Demokrasi selalu memungkinkan mayoritas menindas minoritas (h 2).

Dalam masa pramodern, kelas mendominasi etnisitas, dalam hal bahwa kaum penakluk dan elite-elite dalam masyarakat hanya sebatas menjajah dan mengeksploitasi masyarakat dari kelompok etnis yang lain, bukan menyingkirkan mereka. Tetapi, dengan kemunculan modernitas, kesadaran akan kedaulatan rakyat dan kewarganegaraan universal, kelompok-kelompok etnis muncul menuntut hak yang sama sebagaimana rakyat, yang kadangkala menimbulkan konflik dan meningkat menjadi pembersihan etnik yang brutal dan bahkan hingga pembunuhan massal (genosida). Tesis lama John Naisbitt (Global Paradox, 1994: 24) seperti hadir kembali: “semakin kita menjadi universal, semakin kesukuanlah kita bertindak.”

Pada bab I bukunya itu, Mann mendeskripsikan model pembersihan etnis yang brutal dengan delapan proposisi teoritisnya. Ia berpendapat bahwa kita perlu penjelasan yang lebih memadai tentang bagaimana dan mengapa beberapa hubungan multi-etnis berakhir menjadi peristiwa pembersihan etnis yang sangat brutal, sementara yang lainnya tidak. Tetapi tesis utamanya, yang selalu ia tegaskan, bahwa “pembersihan etnis yang mematikan adalah khas modern karena ia merupakan sisi gelap demokrasi.”

Dengan membuat tipologi tentang tiga cara pembersihan etnis, Mann membagi dimensi-dimensi yang berbeda dari proses pembersihan etnis yang berhubungan dengan kekerasan internal, dan menggambarkan bagaimana beberapa tipe kekerasan internal meningkat dari konfrontasi etnis menjadi pembersihan etnis yang brutal. Fokus dari pembahasan Mann dalam The Dark Side of Democracy adalah tipe kekerasan yang mengarah pada pembersihan etnis yang mematikan (tabel 1.1, h 12). Tipologi yang dibuat Mann tersebut menunjukkan bahwa kebanyakan bentuk pembersihan etnis amatlah halus dan pembersihan etnis yang amat brutal jarang terjadi. Ia juga menunjukkan bahwa banyak kelompok etnis menghindar dari peristiwa pembersihan etnis dengan berasimilasi menjadi apa yang disebut negara-bangsa. Jadi, di sini Mann membatasi fokus analisanya tentang pembersihan etnis yang brutal sebagai peristiwa yang sangat jarang terjadi pada sejarah modern umat manusia, untuk mejawab pertanyaan: mengapa pembersihan etnis itu terjadi?

Mann menyebutkan bahwa pembersihan etnis bukanlah pilihan awal (Rencana A), melainkan opsi alternatif (Rencana C) ketika rencana pertama dianggap tidak berhasil (h 7, 26). Amat jarang tindakan pembersihan etnis didasari pada alasan yang rasional. Bagaimana bisa penduduk Jerman ketakutan pada kaum Yahudi di negaranya yang hanya berjumlah 0,7 persen? (h 25). Yang jelas pembersihan etnis yang mematikan hampir selalu dimotori oleh elite negara (h 21, 23).

Tetapi tentu yang namanya elite itu tidaklah banyak, padahal ribuan orang juga terlibat membantu ‘proyek’ pembersihan etnis yang brutal tersebut. Mengutip eksperimen Stanley Milgram, Mann menunjukkan bahwa orang-orang biasa juga dapat membunuh jika perintah untuk membunuh datang dari sebuah otoritas ilmiah yang absah (h 27). Ini juga ditegaskan oleh argumen psikolog, I Charny, yang mengatakan bahwa para pembunuh manusia secara massal kebanyakan adalah orang-orang biasa (h 9).

Betulkah genosida adalah fenomena modern? Tesis ini dibantah Canadian Journal of Sociology (Mei-Juni 2005), yang menunjukkan bahwa episode pra-sejarah pembersihan etnis dalam bentuk pengusiran terjadi atas penduduk awal wilayah yang sekarang dikenal sebagai Jepang. Pada abad 300 SM para pendatang Jepang menyebrangi lautan melalui Korea dan mereka secara bertahap mengusir pada penduduk asli (Jamon). Saat ini hanya sedikit yang tersisa, sekitar 150 ribu di Hokkaido dan pulau-pulau utara lainnya.
Post a Comment