Sebab-sebab Terorisme Islam

Pernah suatu ketika di abad ke-10, ahli geografi asal Arab masa itu, Mas'udi, mengungkapkan kata-kata yang mengolok-olok tentang masyarakat 'Urufa' atau Eropa: 

"Selera humor orang Eropa rendah, badan mereka besar, perangainya kasar, pemahamannya tumpul, untuk berkata-kata saja lidah mereka berat… Semakin jauh ke Utara tempat mereka berasal, semakin bodoh, kasar, dan tidak beradablah mereka" (Crosby, 1997).
Tapi lihatlah sekarang, keadaan berbalik 180 derajat! Kata-kata tersebut justru sepertinya lebih pantas ditujukan bagi masyarakat Arab saat ini. Kawasan Timur Tengah bahkan dikenal identik dengan krisis kemanusiaan paling berbahaya di dunia: konflik, peperangan, fundamentalisme, terorisme. Mengapa demikian? 

Saat Islam berada dalam kemajuan pada abad ke-8, sebenarnya populasi Islam sebanding dengan Kristen Eropa, masing-masing kurang lebih 30 juta. Bahkan ketika itu kota-kota di negara Islam menjadi pusat perekonomian dunia. Waktu itu ada sekitar 13 kota Islam dengan lebih dari 50 ribu penduduknya, termasuk Iskandaria, Bagdad, Kairo dan Mekah. Sementara Eropa yang relatif maju hanyalah di kawasan baratnya, dengan Roma sebagai satu-satunya kota andalan. 
Dalam perjalanan waktu keseimbangan demografis tersebut berbalik arah, menjadikan Eropa menyusul segala ketertinggalannya. Eropa tidak hanya dikelompokkan kembali secara politik di bawah suatu struktur feodal yang lebih stabil, tetapi juga mengembangkan teknologi seperti alat pembajakan modern bagi tekstur tanah keras hutan-hutan kawasan Utara benua itu. Populasinya tumbuh cepat setelah abad ke-10, hingga berpenduduk sekitar 100 juta pada awal abad ke-17. 
Pada masyarakat Islam Arabia yang terjadi adalah sebaliknya, mereka dikelilingi oleh kegersangan gurun dan keterbatasan sumber daya alam. Populasi Islam tidak bergeser secara berarti hingga berabad-abad, sampai mengalami kemajuan tajam pada akhir abad ke-19 dengan kemajuan revolusi industri dan teknologi yang dijalankannya. 
Awal mula kesulitan yang melilit masyarakat Islam untuk berkembang dimulai saat tidak dilibatkannya Islam, khususnya oleh pelayar Portugis Vasco da Gama, pada akhir abad le-15 dalam membangun rute perjalanan laut Afrika hingga Asia. Ketika itu Vasco da Gama berupaya menyatukan Eropa dan Asia melalui perdagangan lewat jalur samudera yang seluruhnya mengambil jalan pintas rute-rute Jalur Sutera dan Laut Merah Asia Tengah serta Timur Tengah. 
Kesulitan semakin mencekik setelah usaha kontrol yang dilakukan Islam terhadap perdagangan samudera Hindia akhirnya jatuh juga pada kekuasaan angkatan laut Eropa yang tangguh. Dan upaya perbaikan perdagangan pada saat yang sama yang dilakukan Islam atas Terusan Suez melalui Laut Merah pada 1869 sudah sangat terlambat. Eropa saat itu telah menang dan akan terus mengontrol Terusan Suez dan perdagangan-perdagangan jalur laut serupa melalui pendudukan militer dan kontrol finansial. 
Pada akhir abad ke-19, saat keruntuhan akhir Kekaisaran Ottoman di Turki, Eropa memiliki sumber daya alam yang relatif melimpah: batubara, air, kayu, dan biji besi. Sedangkan negara-negara Islam Arabia hanya memiliki sedikit dari stok kebutuhan abad ke-19 tersebut untuk menyokong industrialisasi. 
Di lain pihak, penemuan ladang-ladang minyak di negara-negara Islam baru dieksplorasi setelah Eropa telah menggenggam kontrol kolonial. Tak ayal jika sekarang ini negara-negara Islam telah kehilangan kendali atas rute-rute perdagangan, komoditas-komoditas primer seperti minyak, dan bahkan kedaulatan mereka sendiri di banyak wilayah. 
Kisah di atas menunjukkan salah satu dari sekian alasan munculnya terorisme Islam. Terorisme Islam bukanlah lahir dari suatu ajaran, tetapi dari meluasnya ketidakadilan global dan dominasi Barat atas Islam. Terorisme lahir dari masalah geopolitik yang nyata, bukan ihwal moral atau agama. Tentu penafsiran sekelompok orang atas kitab suci tentang 'jihad' bisa saja dipengaruhi ketidakadilan dan dominasi ini. 
Dengan standar yang obyektif, hingga saat ini sesungguhnya kota-kota Islam sekarang ini belumlah benar-benar termasuk dalam bagian dari jaringan global perdagangan, pemikiran, teknologi, dan kebudayaan. Hingga terjadi peristiwa 11 September, Islam tidaklah dilibatkan dalam pertukaran intelektual, konferensi akademik, kegiatan olahraga, investasi luar negeri, dan perdagangan. 
Memang, tidak ada jaminan bahwa wajah dunia kita akan berbeda seandainya cerita tentang masyarakat Eropa yang dikisahkan Mas'udi di awal tulisan ini masih berlaku higga kini, dan kalau saja Vasco da Gama sempat melibatkan negara-negara Islam dalam upayanya membuka jalur perdagangan dunia. Apalagi cara pandang manusia atas dunia sudah keliru sejak lama, hingga membawa kita pada krisis global yang terus mengancam.***

Post a Comment