Sham Shui Po Dulu dan Sekarang

Hampir dua tahun saya tinggal di Sham Shui Po, salah satu distrik kumuh dan miskin di kota Hong Kong. Sham Shui Po dalam bahasa Cina berarti Dermaga Perairan Dalam. Akan tetapi dermaga atau pelabuhan yang disematkan ke nama Sham Shui Po sekarang hanya tinggal kenangan. Sejak pemerintah kota Hong Kong mengembangkan sistem transportasi darat dan kereta bawah tanah (MTR), pelabuhan di kawasan Sham Shui Po berhenti beroperasi.  


Sham Shui Po pertama kali dihuni pada masa Dinasti Han. Pada tahun 1850 kebanyakan lahannya digunakan untuk bercocok tanam. Sebagian besar lahan tersebut dimiliki keluarga Tang. Ketika Jepang berperang menjajah Cina pada 1937, ribuan penduduk daratan Cina bermigrasi ke pulau Hong Kong dan semenanjung Kowloon. Sham Shui Po menjadi pilihan pavorit untuk ditempati. 

Pada 1950 penduduk kota Hong Kong pun semakin bertambah hingga mencapai 2,36 juta jiwa. Para pendatang dari Cina (daratan) tersebut mendirikan rumah-rumah kayu untuk menetap. Hingga pada 1952, daerah Sham Shui Po dan sekitarnya dipenuhi oleh rumah-rumah kayu para pendatang, termasuk di kawasan kampung Pak Tin, Wo Chai, dan Shek Kip Mei. 

Daerah Sham Shui Po pun lambat laun semakin berkembang, terutama dengan semakin pesatnya kegiatan perdagangan dan industri di kawasan tersebut. Toko-toko banyak berdiri untuk menjual kebutuhan sehari-hari, termasuk selimut tradisional berbahan katun, sepatu, kain, dan mesin jahit.

Sham Shui Po pernah memiliki pasar pagi dini hari yang menjual pakaian bekas di persimpangan antara Jalan Shek Kip Mei dan Jalan Yu Chau. Tetapi kawasan tersebut berubah menjadi pasar grosir garmen (pakian jadi) sejak tahun 1976. 

Sebelum Perang Dunia II (1939-1945) terdapat banyak galangan kapal di sepanjang daerah teluk Sham Shui Po, di sepanjang kawasan Cheung Sha Wan hingga Lai Chi Kok. Tetapi pada 1950-an pemerintah Hong Kong memulai penataan kota dengan menghancurkan galangan-galangan kapal tersebut. 

Di tahun 1950-an dan 1960-an masyarakat Hong Kong menjadikan Sham Shui Po sebagai pusat industri pakaian. Pemintalan benang dan kain pun menjamur di kawasan tersebut hingga akhirnya industri lokal seperti kain, bordir, kancing dan sejenisnya berkembang pesat. 

Pada tahun 1980 Sham Shui Po akhirnya menjadi pusat tekstil terbesar di kota Hong Kong. Pusat pertokoan kain dan bahan-bahan sejenis berjejer terutama sepanjang Jalan Yu Chau, Jalan Ki Lung, Jalan Tai Nan, Jalan Apliu, Jalan Shek Kip Mei, Jalan Nam Cheong, dan Jalan Wong Chuk. 

Sementara itu Jalan Apliu berkembang menjadi daerah terkenal untuk penjualan alat-alat elektronik. Jalan Apliu adalah gudangnya barang-barang elektronik seperti radio, pesawat telepon dan televisi. Dulu sebelum berkembang di sekitar tahun 1960-an, daerah sepanjang Jalan Apliu merupakan kawasan untuk peternakan bebek (Apliu sendiri artinya peternakan bebek; kira-kira seperti salah satu daerah di Jakarta Barat, yang sekarang disebut Rawa Bebek). 

Sekarang ini Jalan Apliu menjadi tempat penjualan barang-barang elektronik bekas. Ini terjadi setelah belakangan Sham Shui Po semakin berkembang, hingga bermunculan toko-toko dan mal-mal besar seperti Golden Shopping Arcade dan Golden Computer Arcade yang menjadi salah satu kawasan terbesar penjualan alat-alat teknologi informasi dan elektronik di kota Hong Kong. Menjelang dan pada hari raya Imlek, pasar ini dijejali oleh ratusan ribu pedagang dan pembeli yang bertransaksi hingga di tepi dan tengah jalan.

Selain pusat barang elektronik, pasar Sham Shui Po sampai saat ini masih menjadi gudangnya tekstil dan garmen, yang kebanyakan diproduksi di Cina. Banyak BMI tak hanya membeli, tapi juga turut berjualan mengais rejeki di pasar tersebut pada setiap Minggu. 

Menjelang lebaran nanti, kita bisa saja menemukan batik atau pakaian muslimah yang dibuat di Cina yang dijajakan di pasar Sham Shui Po ini. Atau juga pakaian-pakaian yang sebenarnya dibuat di Indonesia, lalu dipasarkan di Hong Kong untuk ditawarkan kepada para BMI, yang kemudian mereka mengirimkannya kembali ke keluarga tercinta di tanah air, sebagai hadiah lebaran. 

Dengan jumlah buruh migran yang tidak sedikit, para buruh migran termasuk dari Indonesia sudah turut menyumbang peredaran transaksi perdagangan di Sham Shui Po ini yang per harinya mencapai jutaan dollar. *** (Kolom Fahmi Panimbang, Smileclub 29 Juli 2013; Foto: Chon Kai). 

Post a Comment