Kue Bulan, Sampah Musim Gugur

Tahukah Anda kalau kue bulan (moon cake), yang khas beredar pada setiap musim gugur seperti sekarang ini, memiliki sejarah yang menarik? Dulu, kue bulan dijadikan sebagai alat perang, strategi untuk menyebarkan berita dan melakukan mata-mata.

Ketika itu, Kekaisaran Mongol yang menguasai Cina di abad ke-14 akhirnya tidak berdaya oleh perlawanan heroik para petani Han yang dipimpin Zhu Yuanzhang (Dinasti Ming). Zhu menggunakan ‘strategi kue bulan’. Ia dan para petani menggalang kekuatan dengan menggunakan makanan tersebut sebagai sarana menyebarkan informasi dan taktik kepada simpul-simpul petani yang berjuang menggulingkan pemerintahan Mongol.  

Mula-mula Zhu Yuanzhang dan para ahli perangnya menyebarkan desas-desus bahwa telah muncul wabah penyakit yang mematikan, akan tetapi ia dapat dicegah oleh kue bulan. Desas-desus ini menjadikan kue bulan yang mereka buat dengan cepat tersebar ke setiap penjuru. Pesan-pesan rahasia pun ditulis. Ada yang diselipkan di dalam kue, ada pula yang ditulis di permukaannya dengan sandi yang hanya disadari dan dimengerti oleh pasukan dan petani pengikut Zhu. Pesan rahasia juga hanya dapat dibaca jika beberapa potong kue digabungkan. Akhirnya, pemberontakan petani Han yang terorganisir pada malam bulan purnama itu melumpuhkan pemerintahan Mongol, hingga akhirnya bubar pada tahun 1368.  

Bagaimana kah perayaan kue bulan dimaknai sekarang?

Festival kue bulan di musim gugur merupakan perayaan terbesar kedua setelah tahun baru Cina. Sebagai tradisi yang diyakini sebagai penghormatan pada leluhur, kue bulan adalah simbol kebulatan dan keutuhan. Di zaman sekarang yang penuh dengan komersialisasi, festival kue bulan juga tak luput dari komersialisasi yang dalam beberapa hal telah menjauhkan dari makna intinya. 

Bayangkan, tahun ini hampir dua juta kue bulan terbuang tak termakan, belum termasuk sampah dan limbah plastik, kardus, kaleng dan bahan-bahan pengemas lainnya yang membahayakan lingkungan. Sampah kue bulan semakin menggunung dari tahun ke tahun, terutama kemasannya yang semakin rumit dan tidak perlu. Biaya membuat kemasan pun semakin jauh lebih mahal dibanding dengan harga kuenya yang berbahan standar. 

Dewan Pembangunan dan Perdagangan kota Hong Kong menyebutkan bahwa  di Cina saja terdapat lebih dari 10 ribu perusahaan pembuat kue bulan. Jika dijumlahkan, mereka memproduksi lebih dari 280 ribu metrik ton kue bulan setiap tahun, satu bisnis fantastis yang nilainya mencapai lebih dari Rp.22 trilyun. Belum lagi industri periklanan yang transaksi bisnisnya mencapai milyaran. 

Bagaimana pun festival kue bulan atau perayaan musim gugur adalah tradisi leluhur.  Namun jika setiap tahun perayaan ini menyisakan sampah hingga 2 juta kue, gunungan limbah plastik dari bungkus/kemasannya, tentu ada yang salah dari bagaimana kita menghayati perayaan ini. 

Jika Anda masih menyimpan kue bulan dan mungkin tak akan termakan, akan dikemanakan kue bulan beserta bungkusnya itu? 

Post a Comment