Polisi, Minibus, dan Mafia Hong Kong

Mungkin hal ini tak banyak yang tahu: asal mula minibus beroperasi di kota Hong Kong ialah peristiwa kerusuhan di tahun 1967. Akibat tidak beroperasinya transportasi publik, dengan cepat mafia Hong Kong (dikenal dengan sebutan Triad) mengerahkan minibus di banyak titik.

Ketika itu Hong Kong bergejolak dan masyarakat antipati terhadap pemerintahan kolonial Inggris. Mereka berunjuk rasa memprotes perilaku korup pemerintah dan menuntut layanan publik yang lebih baik, terutama perumahan rakyat dan pendidikan. Ribuan rakyat tumpah ke jalan, meluapkan amarah, berdemo, termasuk para anggota serikat buruh KMB (Kowloon Motor Bus) dan CMB (China Motor Bus). Kota Hong Kong pun menjadi lumpuh, tak ada transportasi umum. Minibus yang dikerahkan Triad sangat efektif memenuhi kebutuhan masyarakat, sampai akhirnya mendapatkan lisensi dari pemerintah.

Mungkin minibus adalah salah satu sumbangan Triad paling bersejarah bagi Hong Kong. Di luar itu mereka jadi momok yang menakutkan. Kelompok mafia ini mengelola bisnis kotor, terlibat dalam banyak peristiwa pembunuhan, meraup trilyunan dolar dari bisnis obat terlarang dan barang-barang selundupan termasuk rokok dan CD porno. Rokok-rokok buatan Indonesia yang beredar di Hong Kong juga kebanyakan selundupan, yang tentu tak mungkin ada jika tidak melibatkan sindikat Triad. 

Tentu saja kepolisian Hong Kong tidak tinggal diam. Tahun ini mereka melancarkan operasi bersama tiga kota (Hong Kong, Guangdong dan Makau) yang dinamai “Thunderbolt 13”. Belum lama ini lebih dari 1,800 orang sudah ditahan di Hong Kong sebagai bagian dari operasi tersebut. Di Makau sudah 1000 orang ditahan dan bahkan di Guandong sekitar 10,000 orang telah dibekuk. Dua sindikat yang aktif di daerah Kowloon pun telah dilumpuhkan melalui operasi bawah tanah. 

Tentu saja tidak seperti di film-film, polisi di Hong Kong merasa harus tetap patuh pada hukum. Tidak ada alasan mereka menggunakan senjata kecuali untuk menyelamatkan nyawa. Peran polisi di Hong Kong terutama untuk menjaga agar hukum ditegakkan. 

Dalam setiap demonstrasi warga Hong Kong, para personel polisi selalu mengedepankan penyelesaian masalah. Mereka menjadi perantara yang baik. Dua pihak pendemo dan yang didemo difasilitasi untuk saling menghormati. Tidak berat sebelah pihak, tidak seperti polisi Indonesia yang lebih sering membela pengusaha yang didemo buruh. Memang saat demo-demo tertentu seperti peringatan penyerahan kota Hong Kong kepada pemerintahan Cina setiap 1 Juli, polisi Hong Kong akhir-akhir ini semakin agresif membendung luapan ratusan ribu demonstran di jalanan.

Kepolisian Hong Kong telah berkembang menjadi salah satu kekuatan yang terlatih dan sangat disiplin di dunia. Dengan jumlah 30,000 personel dikerahkan di jalanan setiap harinya, kepolisian kota Hong Kong bahkan mengungguli jumlah personel polisi di kota-kota besar dunia seperti New York dan London. Tak heran kalau Hong Kong menjadi salah satu kota paling aman di Asia.

Di film-film aksi yang diproduksi di Hong Kong, kita mendapat gambaran operasi agen kepolisian dan kejahatan mafia ini dengan lebih jelas. Tentang cerita polisi dan mafia ini, film yang diperankan Jackie Chan berjudul “Police Story” (Cerita tentang Polisi, produksi tahun 1985) paling banyak diminati, dan bahkan masih sering diputar di beberapa stasiun televisi Indonesia sampai saat ini. Dalam film tersebut, Jackie Chan -- yang tak pernah mau menggunakan pemeran pengganti -- loncat dari lantai empat Wing On Plaza di Tsim Sha Tsui, meluncur ke bawah sambil memegangi tali lampu pohon natal yang tentu saja membakar tangan dan tubuhnya -- peran yang hampir membuatnya lumpuh. 

Untuk kejadian apapun, jika Anda membutuhkan pertolongan di kota Hong Kong, segera telpon 999 (untuk kepolisian, pemadam kebakaran dan ambulans).***
Post a Comment